Aku Anak dari Orangtua Berbeda Agama, dan Ini Hidupku

Orangtua Berbeda Agama

Tidak ada si kecil yang dapat memilih dari Keluarga mana dia akan dilahirkan. Ada yang kesudahannya lahir di keluarga dengan kebanyakan uang, ada yang dibesarkan di pelosok dan ada yang di perkotaan, ada pula yang besar di keluarga yang punya lebih dari satu agama. Saya sendiri dilahirkan di keluarga berbeda agama. Ibuku (Mama, atau kadang juga ‘Emak’, ‘Emak’, atau ‘Enyak’) adalah seorang Muslimah, dan ayahku (‘Papa’ atau ‘Babe’) penganut Katolik Roma. Saya satu – satunya si kecil lelaki dari tiga bersaudara.

 

Orangtuaku telah menikah selama 34 tahun. Agustus lalu adalah bulan ulang tahun pernikahan mereka. Sudah hampir 24 tahun aku ada dalam Keluarga ini. Saya selama 24 tahun itu, inilah yang aku rasakan sebagai si kecil dari ayah dan ibu dengan agama yang berbeda:

 

  1. Keluarga kami lebih ‘selo’ dari banyak keluarga lainnya. Lebih acap kali kumpul-kumpul, makan-makan, dan merayakan hari keagamaan

 

Keluargaku berbeda dari kebanyakan keluarga di Indonesia. Tidak hanya dari segi agama, yang lainnya juga. Seumpama, berbeda dari keluarga lain, keluargaku lebih selow. Lebih acap kali kumpul-kumpul bareng, tamasya, dan mengerjakan perayaan.

 

Saat Natal atau Paskah, segala Keluarga di Indonesia yang beragama Kristen akan mengadakan acara acara makan malam bersama. Manis-kudapan manis kecil akan dihadirkan di meja ruang tetamu dan ruang keluarga, supaya keluarga besar yang akan datang dapat dijamu dengan nyaman. Ini lazimnya dilakukan hanya setahun sekali. Itu juga dengan keluarga Muslim yang merayakan Idulfitri dan Idul Adha. Akan ada makan bersama, keluarga yang datang, berkumpul, arisan keluarga dan semacamnya. Tetapi, sama dengan Natal dan Paskah, kemungkinan besar hanya setahun sekali.

READ  Manfaatkan Pelembap Bibir Alami

 

Nah, di Keluarga, Natal, Paskah, Idulfitri dan Idul Adha adalah momen perayaan yang absah. Kami akan merayakan keempatnya sehingga akan ada lebih banyak waktu yang kami habiskan bersama keluarga. Artinya, akan ada lebih banyak waktu untuk bersenang-senang dan makan-makan. Artinya, akan lebih selo. Siapa yang tak suka dengan waktu selo?

 

  1. Punya ayah dan ibu Muslim dan Katolik, aku jadi punya lebih banyak peluang untuk belajar seputar agama dan manusia

 

Dengan lahir dalam Keluarga yang berbeda agama, aku jadi tahu seputar dua hal secara berbarengan. Saya belajar seputar Islam dan Katolik Roma. Dari kecil, aku belajar sedikit demi sedikit seputar Islam, walaupun tak pernah memeluknya. Berjenis-tipe pengalaman dan nilai Islami beberapa besar aku temukan dari Mama, selebihnya dari sahabat-sahabat Muslim yang dekat denganku. Saya meyakini bahwa pengetahuan semacam ini memperkaya diriku. Bukan secara isi dompet, tetapi secara personal, kejiwaan, atau pemikiran. Saya jadi mengerti hal-hal apa yang diperbolehkan dan tak diperbolehkan dalam Islam, keharusan-keharusan seorang Muslim, dan detail-detail ajaran lainnya. Menurut pandanganku, mempelajari dan mengerti ajaran agama yang tak kita anut dapat menyusun pengertian antara orang – orang. Saya dengan pengertian yang baik, semuanya dapat selo. Saya dengan ke-selo-an yang cukup, dunia akan baik-baik saja. Dunia selalu kacau dikala orang kurang selo. Ada juga perasaan menyenangkan dikala sahabat-sahabat Muslimku bertanya,”Kok kau dapat tahu ajaran agamaku sih No?” Kujawab saja, karena ibuku malah seorang Muslimah. Mendapati bahwa sahabat-sahabat Muslimku tak mengira aku tahu ajaran agama mereka, buatku itu menyenangkan sekali.

 

  1. Status keluargaku membuat banyak sahabat penasaran. Buatku, itu topik obrolan yang benar-benar menyenangkan
READ  Kelainan Yang Bisa Terjadi pada Katup Jantung

 

Seingat kepalaku, selalu ada perhatian lebih dari orang-orang semacam itu mereka tahu agama ayah dan ibuku. Bagiku ini juga menyenangkan. Bukan karena haus perhatian, tetapi karena hingga sekarang, ini dapat menjadi caraku menambah sahabat. Saya jadi bahan obrolan yang asyik dikala permulaan-permulaan berkenalan. Mungkin karena memang Keluarga termasuk “minoritas” di Indonesia, banyak orang yang kesudahannya mau mengerti bagaimana rasanya tinggal, dibesarkan, dan hidup dalam keluarga dengan ayah dan ibu beragama berbeda. Mungkin, mungkin.

 

  1. Ini yang aku percaya: kita dapat saja jatuh cinta dengan orang yang tak punya latar sama. Saya itu tak apa.

 

Saya tak dapat menemukan translasi yang benar-benar menggugah kepala dari kalimat berbahasa Jawa ini. Mungkin kira-kira, “Kita dapat saja jatuh cinta dengan orang yang sama sekali tak sama dengan kita.” Saya percaya, dua hal yang berbeda dapat disatukan untuk satu makna yang lebih dalam. Saya percaya, tresna (Bahasa Jawa: ‘cinta’, aku tetap pakai ‘tresna’ karena lebih puitis ketimbang ‘cinta’) itu dapat melintasi sesuatu yang lazimnya dikotak-kotakkan. Saya itu ras, suku, kasta, dan, secara khusus, agama. Pikiran semacam ini aku pikir datang dari latar belakang keluargaku yang harmonis. Semuanya menyenangkan, terlepas perbedaan agama antar Papa dan Mama. Tidak punya hak untuk bilang bahwa relasi yang berbeda agama pasti akan membuat ini-itu runyam. Saya secara pribadi, itu tak terjadi pada Keluargaku.

Related posts