Premi dan Laba Asuransi AHAP Tergerus

Laba Asuransi

Asuransi Harta Aman Pratama Tbk (AHAP) (Asuransi Harta / Harta General Insurance) didirikan dengan nama PT Asuransi Harapan Aman Pratama tanggal 28 Mei 1982 dan mulai beroperasi komersial sebagai perusahaan asuransi kerugian semenjak tahun 1983. Kantor sentra Asuransi Harta terletak di Jl. Balikpapan Raya No. 6, Jakarta 10130, dan memiliki jaringan operasi sebanyak 4 kantor cabang dan 12 kantor pemasaran yang tersebar dibeberapa kota besar di Indonesia.

 

PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk. (AHAP) sudah mencatatkan rugi bersih hingga sebesar Rp 41,42 miliar sepanjang tahun 2017, seiring dengan penurunan premi bruto hingga 11,64 % diperbandingkan tahun sebelumnya. Realisasi hal yang demikian dinilai terjadi lantaran kondisi ekonomi yang kurang kondusif bagi industri asuransi akibat pelemahan laju konsumsi masyarakat sepanjang tahun lalu.

 

Selain itu, praktik tambahan biaya akuisisi dalam wuju engineering fee yang dianggap kian ‘ liar ’ dan membebani asuransi menjadi factor penting lain yang memengaruhi daya kerja AHAP secara khusus, dan industri asuransi kerugian secara biasa.

 

Sunyata Wangsadarma, Direktur Utama AHAP, mengatakan kondisi ekonomi 2017 dan 2018 memberikan tekanan yang cukup berarti bagi industry asuransi biasa. Tenaga beli masyarakat, jelasnya, menjadi elemen utamanya. “ 30 tahun terakhir, tahun lalu dan tahun ini kondisi yang paling buruk bagi industri asuransi biasa, ” ungkapnya kepada Bisnis.

 

Keadaan asuransi AHAP kerugian, sambung Sunyata, juga belum menampakkan perubahan berarti, secara khusus berkaitan praktik tambahan biaya akuisisi dengan pialang atau broker yang kian menekan margin asuransi. Meskipun, jelasnya, selama ini broker asuransi menjadi kanal distribusi yang dominan dengan tertanggung bisnis yang tergolong besar. Jika menerima bisnis dari broker, jelasnya, asuransi kerugian dihadapkan pada biaya tambahan yang amat besar dan dapat menyebabkan pendapatan kian kecil atau pun merugi. Sebaliknya, asuransi kerugian pun terpaksa kehilangan potensi bisnis yang signifikan sekiranya tak bersedia menyediakan biaya tambahan hal yang demikian.

 

“ Jadi, terima bisnisnya kami merugi, tak terima pun kami rugi. Kami kehilangan banyak bisnis, termasuk dari multifinance sebab kami menolak unfront fee. ” Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian audited per 31 Desember 2017 yang dipublikasikan di situs legal Bursa Efek Indonesia, AHAP mencatatkan rugi bersih senilai Rp41,42 miliar atau turun hingga ratusan persen sebab pada 2016 si kecil usaha PT Asuransi Central Asia itu masih meraup laba bersih senilai Rp8,20 miliar.

 

Pada ketika yang sama, premi bruto AHAP menurun hingga 11,64% dari Rp328,36 miliar pada 2016 menjadi Rp290,15 miliar pada tahun lalu. Sebelumnya, Dody A.S. Dalimunthe, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Awam Indonesia (AAUI), mengakui dalam beberapa tahun terakhir peningkatan biaya tambahan itu kian signifikan dan tak terkontrol sehingga terus menekan laba bersih perusahaan asuransi biasa. Ia mengatakan sejumlah perusahaan asuransi biasa pun sudah menikmati imbasnya dengan anjloknya margin keuntungan perusahaan.

 

Keadaan serupa pada AHAP, dinilai masih terjadi hingga tahun lalu. ” Data kami menampakkan itu, hasil underwriting bagus, tetapi biaya makin naik, sehingga margin makin kecil. Kini sudah mulai 3%, awalnya kan 5%, lama-lama akan menjadi 1% atau 0%,” ungkapnya kepada Bisnis, baru-baru ini. Dody mengatkan kondisi sulit tambahan biaya akuisisi dalam prakteknya di industri seringkali dimasukkan dalam ketegori engineering fee komisi ini sesungguhnya adalah biaya survei risiko yang dapat ditagihkan perusahaa pialang atau broker asuransi kepada perusahaan asuransi. Praktik ini kebanyakan terjadi dalam penutupan asuransi properti.