Aneka Teori dalam Upaya Memecahkan Dejavu

Dejavu

Dejavu terjadi saat seseorang mendapatkan perasaan bahwa ia pernah mengalami atau melaksanakan sesuatu yang sama dengan pengalamannya di masa lalu. Istilah ini berasal dari bahasa Prancis yang berarti ‘pernah memandang’. Meski studi menunjukkan bahwa dejavu banyak dialami oleh individu yang sehat, melainkan kejadian ini juga dapat yaitu bagian dari keadaan medis tertentu, seumpama kejang dan aura pada migrain.

 

Banyak yang penasaran tentang bagaimana fenomena dejavu dapat terjadi. Berjenis-jenis penelitian berupaya menjelaskan bagaimana seseorang dapat mengalami dejavu. Sebagian penjelasan yang ada mengenai fenomena ini, antara lain:

 

Terkait dengan gangguan mental

Awalnya terdapat dugaan bahwa dejavu berhubungan dengan gangguan mental, seperti kecemasan, gangguan identitas disosiatif (sebelumnya dikenal sebagai gangguan kepribadian majemuk), dan skizofrenia. Tapi, penelitian permulaan yang dikerjakan tak menemukan bukti kuat berhubungan korelasi di antaranya.

 

Terkait dengan umur dan stres

Menurut penelitian, dejavu lebih kerap kali terjadi pada umur antara 15 – 25 tahun, dan umumnya akan berangsur menghilang seiring dengan pertambahan umur. Di samping itu, kemunculan dejavu juga dapat dipicu oleh stres dan kelelahan. Penelitian yang sama juga membongkar bahwa dejavu lebih kerap kali terjadi pada malam hari dan akhir pekan.

 

Gangguan sinkronisasi info di otak

Sebagian peneliti menduga bahwa fenomena dejavu terjadi sebab adanya ketidakcocokan suatu info di dalam otak saat hendak membuat persepsi yang menyeluruh dari suatu peristiwa, di mana info yang ada terlalu sedikit, sehingga yang timbul yaitu info samar antara input sensorik dan output memory-recall (mengingat kembali info dari kejadian lalu). Meski demikian, teori ini bahkan belum mampu menjelaskan sepenuhnya kenapa dejavu dapat terjadi.Teori lain yang masih berhubungan dengan dugaan di atas mengatakan bahwa dejavu timbul pengaruh adanya kegagalan otak dalam rentang waktu yang benar-benar singkat, sehingga terjadi tubrukan antara memori rentang panjang dan rentang pendek. Pada teori ini dikatakan, adanya penyimpangan trek memori, di mana memori rentang pendek tersesat ke dalam memori rentang panjang seseorang, akan menyebabkan timbulnya dejavu. Inilah alasan dejavu kerap kali membuat kita seolah-olah pernah merasakan hal yang dialami saat ini di masa lalu.

 

Gangguan di lobus temporal medial

Penelitian lainnya mencurigai gangguan lobus temporal medial otak sebagai pemicu terjadinya dejavu. Studi yang dikerjakan pada pasien epilepsi dengan mengaplikasikan stimulus listrik menemukan, stimulus pada zona korteks rhinal di otak dapat memicu dejavu.

 

Meski penyebab terjadinya dejavu belum dapat dipastikan, melainkan tak perlu khawatir apabila mengalaminya. Hingga saat ini tak ditemukan bukti yang kuat adanya gangguan serius berhubungan kesehatan dan kejiwaan seseorang yang mengalami dejavu. Tapi, apabila dejavu yang Anda alami mulai terasa mengganggu, sebaiknya konsultasi dengan psikiater atau dokter spesialis saraf untuk penanganan yang pas.