Pemeriksaan Medis Kejiwaan

sakit Kejiwaan

Pemeriksaan medis kejiwaan ialah rangkaian pemeriksaan untuk menetapkan apakah seseorang menderita problem pada kejiwaannya atau tidak. Serangkaian pemeriksaan hal yang demikian mencakup wawancara, pemeriksaan jasmaniah, dan tes tertulis via kuesioner. Pemeriksaan medis kejiwaan umumnya dikerjakan oleh dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) atau psikolog.

 

Pemeriksaan Medis Kejiwaan Melalui Wawancara

Saat menjalani pemeriksaan medis kejiwaan, pasien akan diminta informasi seputar riwayat dan kondisinya secara lazim oleh psikiater dikala dikerjakan wawancara. Apabila pasien tidak bisa memberikan informasi, maka wawancara bisa dikerjakan terhadap keluarga atau orang terdekat pasien. Kabar yang bisa diminta oleh psikiater terhadap pasien dan keluarga, antara lain ialah:

 

  • Identitas pasien, tujuannya ialah untuk mengenal data-data pribadi pasien dan juga untuk pendekatan personal psikiater terhadap pasien. Data yang akan diminta mencakup nama, pekerjaan, status perkawinan, riwayat pengajaran, dan hal lain seputar latar belakang sosial dan adat istiadat pasien.
  • Maksud utama pasien menjalani pemeriksaan medis kejiwaan. Tujuannya ialah untuk mengidentifikasi alasan utama pasien menjalani pemeriksaan medis kejiwaan. Identifikasi ini seringkali dikerjakan dalam format pertanyaan lazim oleh psikiater yang memancing pasien untuk bercerita secara detil, berhubungan keluhannya terhadap psikiater.
  • Pemeriksaan penyakit jiwa yang sedang diderita. Ini ialah pemeriksaan yang paling utama untuk menetapkan diagnosis gangguan mental yang sedang diderita. Psikiater akan minta pasien atau keluarga untuk menceritakan gejala dan riwayat gangguan mental yang diderita serinci mungkin. Kecuali gejala mental, dokter juga perlu mengevaluasi apakah ada gejala jasmaniah yang dinikmati pasien.
  • Pemeriksaan riwayat kesehatan pasien. Psikiater akan menanyakan penyakit-penyakit yang pernah atau sedang diderita pasien. Psikiater juga bisa menanyakan riwayat tindakan medis yang pernah pasien jalani, terutama riwayat operasi.
  • Pemeriksaan obat-obatan dan alergi. Untuk melengkapi informasi kondisi kesehatan pasien, perlu juga dikenal obat-obatan yang dikonsumsi dan alergi yang diderita oleh pasien.
  • Riwayat gangguan mental di Apabila ada member keluarga dekat yang pernah menderita gangguan mental atau problem kejiwaan, hendaknya pasien atau keluarga memberitahukan informasi ini terhadap psikiater.
  • Lingkungan dan riwayat sosial pasien. Pemeriksaan ini mencakup pengumpulan informasi berhubungan kondisi sosial pasien, mencakup riwayat pengajaran, lingkungan pekerjaan, jumlah si kecil, dan riwayat kezaliman pasien. Budaya pasien juga harus diberitakan, terutama adat istiadat yang bisa merusak kesehatan jasmaniah dan mental pasien, seperti adat istiadat merokok, minum alkohol, atau mengonsumsi NAPZA.
  • Riwayat perkembangan pasien. Kabar ini penting seandainya pasien pernah menderita komplikasi pada dikala lahir atau terlahir prematur.
  • Kecuali dari wawancara, psikiater juga akan menjalankan pemeriksaan medis kejiwaan dengan menjalankan pengamatan yang saksama dan teliti untuk mengevaluasi kondisi mental pasien.

 

Amati Status Mental

Pemeriksaan kondisi mental pasien kejiwaan via amati status mental dimulai dari pengamatan kondisi personal pasien pada dikala permulaan wawancara dikerjakan. Khusus-hal yang diperhatikan pada pemeriksaan ini, antara lain:

 

  • Penampilan pasien. Psikiater akan menjalankan pengamatan mulai dari dikala pasien masuk ke ruang pemeriksaan. Khusus-hal yang dinilai dalam amati ini seperti apakah pasien rileks atau gundah, postur tubuh, cara berjalan, dan baju pasien. Dokter akan mengevaluasi apakah baju dan penampilan pasien secara lazim pantas dengan kondisi, usia, dan macam kelamin pasien.
  • Sikap pasien terhadap psikiater. Seperti ekspresi wajah pada dikala pemeriksaan, kontak mata pasien terhadap psikiater, apakah pasien memperhatikan ke satu spot tertentu seperti langit-langit atau lantai selama pemeriksaan, dan apakah pasien berharap diajak bekerja sama selama pemeriksaan (kooperatif) atau tidak.
  • Mood dan afek pasien. Progres suasana perasaan dan emosionil pasien sehari-hari. Apakah pasien merasa sedih, cemas, naik darah, atau gembira selama hari-hari lazim Afek pasien bisa diperhatikan dari gelagat dan raut wajah yang diekspresikan pasien dikala menjalani pemeriksaan. Kesesuaian terhadap mood bisa tampak dari apakah dikala mengaku merasa gembira, pasien tampak tersenyum, murung, atau tidak menampakkan ekspresi sama sekali.
  • Pola bicara. Pola bicara bisa diperhatikan dari volume bunyi dan intonasi pasien selama wawancara, kwalitas dan kuantitas diskusi, kecepatan berbincang-bincang, serta bagaimana pasien merespons pertanyaan wawancara, apakah pasien cuma menjawab ala kadarnya atau bercerita panjang lebar.
  • Pendukung berdaya upaya. Pendukung berdaya upaya pasien bisa dinilai dari bagaimana pasien bercerita selama wawancara dikerjakan. Khusus-hal yang akan diperiksa dari cara kerja berdaya upaya pasien ialah hubungan antara diskusi, apakah pasien acap kali mengganti topik diskusi, atau apakah pasien berbincang-bincang dengan kata-lata yang tidak lazim dan tidak bisa dimengerti. Persepsi dan tenaga tanggap pasien terhadap kenyataan atau apakah pasien mempunyai halusinasi atau waham (delusi) juga akan diperiksa.

 

 

Pemeriksaan Saat dan Psikotes

Apabila dibutuhkan, pasien kejiwaan akan diminta untuk menjalani pemeriksaan pensupport supaya bisa menolong psikiater menetapkan diagnosis. Pemeriksaan pensupport ini bisa berupa pemeriksaan darah dan air seni di laboratorium atau dengan pencitraan, contohnya CT scan dan MRI otak.

 

Kecuali menjalani pemeriksaan medis kejiwaan via wawancara dan amati dengan psikiater, pasien juga kemungkinan akan diminta untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut ialah psikotes. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengevaluasi lebih dalam fungsi mental dan hal spesifik berhubungan kejiwaan pasien, seperti macam kepribadian, tingkat kecerdasan (IQ), dan kecerdasan emosionil (EQ) pasien.

 

Psikotes kejiwaan umumnya dikerjakan dalam format pengisian kuesioner atau lembaran yang berisi pertanyaan atau instruksi tertentu. Pasien umumnya akan diminta untuk mengisi kuesioner ini dalam waktu tertentu dan membaca atau mendapatkan arahan tertentu dari psikiater sebelum mengawali psikotes. Saat menjalani psikotes, pasien dihimbau untuk mengisi dengan jujur, hal ini penting supaya psikiater bisa mengevaluasi dan mendiagnosis kondisi pasien dengan benar.

 

Biasanya Pemeriksaan Medis Kejiwaan

Data-data pasien yang diambil dan dikumpulkan selama pemeriksaan medis kejiwaan akan dianalisa oleh psikiater untuk menetapkan problem dan gangguan mental yang diderita oleh pasien. Melalui analitik  hal yang demikian, psikiater bisa menetapkan gangguan mental yang diderita pasien secara cermat untuk kemudian merencanakan langkah penanganan yang akan dijalani oleh pasien.

 

Pengobatan yang akan dijalani pasien bergantung terhadap tingkat keparahan dari gangguan kejiwaan yang diderita. , pengobatan gangguan mental atau problem kejiwaan yang dijalani akan dikerjakan oleh tim yang melibatkan psikiater, keluarga, dokter, psikolog, dan perawat. Untuk pasien yang tidak mempunyai keluarga, pihak berhubungan lain seperti pekerja sosial atau petugas dari dinas sosial juga akan dilibatkan.