Peluang Usaha Ekonomi Kreatif Topeng Bujang Ganong

Peluang Usaha

Di tengah masyarakat modern yang berkembang ketika ini, topeng menjadi format karya seni yang memadukan nilai estetika dan spiritu alitas. Tidak cuma cukup dengan kata menawan, kadang kala seseorang membeli topeng tertentu, sebab topeng hal yang demikian memiliki nilai misteri. Tetapi, bagi sebagian pengrajin topeng Bujang Ganong Ponorogo, membikin topeng yaitu mengukir sejarah untuk diteruskan ke buah hati cucu. Kesempatan usaha ekonomi kreatif topeng bujang ganong menjadi bisnis yang eksentrik, membikin topeng sekaligus memugar memori siapa saja mengenai sejarah sebuah tempat. Topeng sendiri sesungguhnya yaitu ekspresi paling tua yang pernah tercipta dalam peradaban. Topeng Bujang Ganong misal, topeng yang menandakan sosok patih dari kerajaan Bantar Angin, Ponorogo, kehadirannya senantiasa ditunggu-tunggu penonton tiap dalam pementasan Reog. Sosok topeng Bujang Ganong ini digamgarkan sebagao sosok patih yang penuh nilai-nilai positif dan layak dicontoh seluruh orang.

 

“Karakter topeng Bujang Ganong atau Pujangga Anom ini yaitu salah satu karakter yang enerjik, kocak, sekaligus memiliki keahlian bela diri tinggi, sehingga penampilannya senantiasa ditunggu-tunggu, terlebih oleh buah hati-buah hati. Penggambaran Bujang Ganong yang muda, cekatan, berkemauan keras, jenius, jenaka dan sakti mandraguna ini, harapannya kira-kira agar seseorang dapat mengikuti atau mengikuti karakter positif yang ada di Bujang Ganong.” Ujar Sutrisno, salah satu pengrajin topeng asal Ponorogo ini.Bujang Ganong

 

Tetapi jangan salah, dalam tradisi autentik Ponorogo, perbedaan topeng Bujang Ganong dari Ponorogo dengan kota lain rupanya cukup signifikan. Topeng  Bujang Ganong autentik Ponorogo tidak memiliki gigi taring. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, Sutrisno sering kali membuatkan orderan Bujang Ganong tetapi dengan gigi taring, dan modifikasi lekuk di wajah.

 

“Tetapi, untuk topeng Bujang Ganong yang bertaring cuma untuk pajangan di rumah saja. Jika untuk kelas pentas, umumnya aku buat layak pakem yang ada. Untuk pentas ukuran topeng juga berbeda dengan ukuran topeng untuk pajangan” tambahnya.

 

Metode pembuatan topeng Bujang Ganong dari permulaan sampai finish, Sutrisno mengaku menjalankannya secara homemade. Kecuali dapat dapat feel, metode kerja topeng secara manual, yaitu dengan menatah terlebih pada lekuk wajah, membikin kerapian topeng dapat terjaga. Untuk alat, Sutrisno menggunakan alat berupa satu set tatah ukir yang sudah dia modifikasi, agar penerapannya lebih bagus.

 

Walaupun bahan yang dipakai untuk membikin topeng Bujang Ganong yaitu kayu dadap cangkring. Menurut Sutrisno, kayu ini memiliki karakter yang tidak dimiliki oleh kayu lain. “Kayu Dadap Cangkring sungguh-sungguh ringan, seratnya bagus, dan mudah disusun, sebab inilah kami umumnya menggunakan kayu ini sebagai bahan baku utama. Jika sudah didempul serta di cat, kayu dapat bendung kepada rayap.” Ujar Sutrisno yang sudah 11 tahun berkecimpung sebagai organisator seni topeng ini.

 

Metode pembuatan topeng Bujang Ganong sesungguhnya sungguh-sungguh sederhana, tetapi Sutrisno menginggatkan bahwa dalam membikin topeng harus senantiasa menjaga mood. Jika mood bagus, feel yang di dapat dari topeng juga akan positif. Untuk membikin topeng Bujang Ganong ini, pertama-tama yaitu mencari kayu dadap sebagai bahan utamanya. Sesudah mendapatkan, kayu kemudian diangin-anginkan sampai kering. Lalu, kayu hal yang demikian dipotong dengan ukuran tertentu.

 

“Ada tiga barometer ukuran dalam membikin topeng Bujang Ganong. Pertama untuk topeng kecil, kedua ukuran untuk medium, dan ketiga ukuran besar untuk kelas pentas. Sesudah dipotong, kayu hal yang demikian siap diukir. Sesudah diukir, topeng setengah jadi diangin-anginkan kembali, setelah itu dihaluskan dan di dempul. Terakhir yaitu metode kerja pengecatan dan pemasangan rambut serta aksesoris.” Ungkap Sutrisno.

 

Menurut sutrisno, dari pencarian kayu sampai topeng Bujang Ganong selesai memerlukan waktu satu minggu. Dalam metode kerja ini, yang menjadi tantangan sekaligus kendala bagi Sutrisno yaitu ketersediaan bahan baku rambut untuk sang Bujang Ganong.

 

“Untuk rambut topeng Bujang Ganong, dapat menggunakan rambut ekor sapi atau rambut kuda. Kendala yang sering kali kami hadapi yaitu kesusahan mendapatkan pasokan rambut sapi atau kuda ini. Kebijakan pemerintah untuk lebih memilih mendatangkan daging sapi dari luar negeri daripada mencari sapi lokal, membikin menyusutnya peternak sapi yang menyembelih binatang peliharaannya.” Ujar Sutrisno.

 

Walaupun harga rambut topeng Bujang Ganong sapi per kwintal ketika ini meraba 800 ribu, padahal untuk rambut kuda, Sutrisno mengaku umumnya beli dalam format ikatan. Satu ikat 250 ribu untuk warna hitam, tetapi untuk rambut kuda yang berwarna putih harga dapat menjulang.

 

Untuk pemasaran topeng Bujang Ganong buatannya, Sutrisno mengaku tidak mengalami kendala yang berarti. Justru dia sering kali kelimpungan memenuhi orderan yang datang dari dalam kota ataupun luar kota. “Biasanya kios cinderamata lebih dulu memesan ketika aku belum menyetok topeng, jadi biar mereka kebagian. Sebab seperti itu selesai membikin umumnya lantas ada yang ambil. Tetapi, seandainya yang memesan perseorang dan topengnya akan dijadikan pentas, aku memperlakukan dengan khusus.” Tambah Sutrisno.

 

Dalam seminggu, Sutrisno mengaku kapabel memproduksi sekitar 40 topeng Bujang Ganong. Untuk pertopeng, Sutrisno membandrol dengan harga 250 ribu untuk topeng dengan rambut dari sapi. Jika yang dipakai rambut kuda, sutrisno membandrol topeng buatannya dengan harga 900 ribu. Kecuali Bujang Ganong, Sutrisno juga sering kali mengerjakan topeng siongo barong atau reog. Untuk harga, Sutrisno mengaku sungguh-sungguh tergantung bahan baku yang dipakai. Jika singo barong menggungakan kulit harimau, satu set reog komplit dengan gamelan dapat mencapai 30 – 40 juta.