Dampak Sodomi Terasa Hingga Kemudian Hari

Dampak Sodomi

Ada banyak kasus pelecehan seksual yang terjadi dewasa ini, tetapi tidak semua korban berkeinginan dan berani melaporkan kejadian yang menimpa mereka. Salah satu kasus pelecehan seksual yang cukup memperoleh banyak sorotan yakni sodomi. Imbas dari sodomi sendiri bisa memengaruhi korbannya untuk jangka panjang, bagus secara fisik ataupun psikis.

 

Sodomi yakni kesibukan seksual yang melibatkan masuknya penis ke dalam anus. Padahal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sodomi yakni pencabulan dengan sesama tipe kelamin atau dengan hewan; sanggama antarmanusia secara oral atau anal, umumnya antarpria.

 

Seandainya sodomi terjadi pada anak-anak, bisa saja dia ketinggalan pembelajaran di sekolah. Melainkan, pelecehan kepada anak jarang terdeteksi karena mereka sering kali kali takut mengadukan perbuatan tidak menyenangkan yang dialami.

 

Dan jika yang menjadi korban sodomi yakni pria, ada tambahan efek samping jangka panjang. Misalnya merasa tertekan untuk menggambarkan kejantanannya secara fisik dan seksual, kehilangan kepercayaan diri pada kejantanannya, bingung dengan identitas seksualnya, takut menjadi homoseksual, hingga homofobia.

 

Tertib yang Mengontrol Tindak Kriminal Sodomi di Indonesia

 

Mengapa ada orang yang menyukai melakukan hubungan seksual melalui anal atau sodomi ? Alasannya berjenis-tipe-tipe, mulai dari menuntut kepuasan seksual dari pasangan, bingung dengan orientasi seksual sendiri, mempermalukan korban, hingga berkeinginan menampilkan kekuasaan dan kontrol kepada korban.

 

Istilah sodomi belum dikenal dalam regulasi pidana di Indonesia. Padahal belum dikendalikan secara khusus, perbuatan sodomi bisa diklasifikasikan sebagai pencabulan. Sehingga dalam praktiknya, kasus sodomi dikenakan pasal-pasal tentang pencabulan.

 

Pelaku pencabulan (termasuk sodomi) bisa dijerat Pasal 289 KUHP dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun, serta Pasal 290 KUHP dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun. Seandainya sodomi dilaksanakan sesama tipe kepada anak di bawah usia, dengan pelaku yakni orang dewasa, pelaku hal yang demikian akan dikenakan Pasal 292 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama-selamanya lima tahun.

 

Sementara itu, perbuatan cabul (termasuk sodomi)yang dilaksanakan kepada anak di bawah usia dikendalikan secara khusus dalam Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Seputar Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Seputar Perlindungan , dengan ancaman hukuman penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun, serta denda paling banyak lima miliar rupiah.

 

Jangan ragu untuk melaporkan kepada pihak kepolisian jika Anda memperhatikan, mendengar, atau mengalami tindak pelecehan seksual, termasuk sodomi. Dan jangan lupa untuk menghubungi Komisi Perlindungan  Indonesia (KPAI) jika korban yang Anda kenal masih anak-anak. Korban pelecehan seksual seringkali membutuhkan konseling dan perhatian medis dari dokter dan psikiater atau psikolog dalam jangka waktu tertentu, untuk mengobati luka secara fisik ataupun psikis yang dideritanya.