Perbedaan mendasar antara wanita dan pria yang berselingkuh

berselingkuh

Walau malah sama-sama berselingkuh, dan bertingkah dosa, tapi ada perbedaan besar antara keduanya. Kenapa tidak seluruh rumah tangga mampu memecahkan perselingkuhan? Ada pendapat yang mengatakan bahwa sekiranya seorang wanita selingkuh, rumah tangganya cenderung bubar ketimbang sekiranya pria yang melaksanakannya. Dan inilah kenyataannya, sebab pria dan wanita beranggapan dan berperasaan lain dalam hal seks serta hubungan pasutri. Pria lazimnya bisa membagi-bagi pikirannya dalam hal seks dan hubungan intim. Bagi pria seks adalah seks dan hubungan pasutri tidak ada kaitannya dengan itu. Karenanya seorang pria yang selingkuh bisa bertingkah demikian tanpa menaruh perasaan yang dalam terhadap pacarnya, sementara wanita yang selingkuh memiliki pendapat yang berbeda, baginya seks dan hubungan emosionil saling terkait sehingga sulit baginya untuk memecah-mecah pikirannya.

 

Dengan kata lain, sekiranya wanita selingkuh, lazimnya ada unsur romantisme, keintiman, hubuangan perasaan, atau cinta. Sebaliknya pria, lebih cenderung selingkuh untuk memenuhi desakan seks, hampir tanpa perasaan yang intim. Tentu saja pria selingkuh sebab mereka merasa dicintai dan juga kekuatan tarik seks dari pacarnya, tapi kebanyakan tidak seperti itu. Bagi mereka perselingkuhan adalah sebuah kesempatan, tindakan khusus dalam seks yang, pada pendapatnya, tidak memberi pengaruh hubungan utama mereka. Kenyataannya, sekiranya ditanya, banyak pria mengatakan bahwa mereka betul-betul senang dalam hubungan utama mereka, mereka mencintai pasangan hidup mereka, hubungan seks mereka hebat dan walau malah mereka selingkuh, mereka tidak berniat mengakhiri rumah tangga mereka.

 

Ada sebuah studi familiar yang menonjolkan pria dan wanita menonton video dua pria yang terkait seks dan dua wanita yang terkait seks. Kaum pria yang mengikuti tes ini betul-betul menonjolkan kekhasan kaumnya: Pria yang tidak homo hanya bergairah memperhatikan video yang menonjolkan kaum wanita bercinta, dan pria yang gay tertarik hanya oleh video yang menonjolkan dua pria bercinta. Sementara itu, dua pertiga dari kaum wanita tidak peduli kecenderungan seks-nya, merasa bergairah menonton keduanya — lebih-lebih, video yang menonjolkan koneksi emosionil dan psikologi. Bukan hanya riset ini yang mengatakan demikian, banyak studi lain mendapatkan hasil yang sama, memberi bukti bahwa, pada lazimnya, wanita tertarik dan bergairah memperhatikan keintiman emosionil (lebih-lebih dalam hubungan yang permanen), sementara pria lebih tertarik pada hubungan seks.

 

Dengan kata lain, gairah seks pria lebih terdorong oleh unsur jasmani ketimbang psikologi. Itulah sebabnya situs porno yang dijadikan bagi kaum pria memiliki skenario yang pendek dan mengonsentrasikan pada komponen-komponen tubuh, perilaku seks yang berlebihan dan tidak ada lagi lainnya. Malahan buku porno bagi pria cenderung untuk berpusat pada tindakan seks ketimbang hubungan emosionil dan perasaan.

 

Tidak demikian dengan wanita. Bukalah buku roman, atau tontonlah True Blood, Twilight atau sastra roman dan erotika lain yang berorientasi pada wanita dan Anda bisa memandangnya dengan jelas. Dalam cerita-cerita seperti itu, Anda akan menemukan sedikit saja hubungan seks yang tidak memiliki hubungan emosionil, semata-mata hubungan jasmani. Sebaliknya Anda akan memperhatikan pria-pria berandal berdada bidang, berahang kaku, bersuara dalam yang luluh hatinya seperti itu mereka memperhatikan tokoh wanita cerita itu. Ini juga terjadi dalam cerita yang lebih banyak mengandung seks seperti serial Fifty Shades of Grey, di mana pria yang berandal berjumpa dengan gadis yang betul-betul bagus yang dalam hatinya tahu ia bisa menemukan kebaikan dalam diri pria itu dan membikin hubungan mereka selaras.

 

Pria tidak perlu jatuh cinta untuk menikmati seks. Malahan mereka tidak perlu saling menyukai; yang mereka perlukan hanyalah stimulan. Pada lazimnya lebih sulit untuk membikin wanita tertarik pada seks sebab mereka mengharapkan suara yang dalam DAN lengan yang berotot DAN rasa humor DAN seorang yang berkeinginan memperdengarkan DAN berkeinginan memiliki buah hati DAN mengurus rumah bersama DAN banyak hal lainnya. Perbedaan ini timbul dari evolusi selama ribuan tahun. Peneliti Ogi Ogas dan Sai Gaddam menguraikan ini dalam buku mereka A Billion Wicked Thoughts (Milyaran Pikiran Jahil):

 

“Saat menetapkan seks dengan seorang pria, wanita semestinya memikirkan bentang panjangnya. Pertimbangan ini malah bukan diambil secara sadar, tapi komponen dari perangkat di bawah alam sadar yang timbul untuk melindungi wanita selama ratusan ribu tahun. Seks bisa mengakibatkan wanita mengalami perubahan seumur hidup: kehamilan, menyusui, dan lebih dari sepuluh tahun membesarkan buah hati. Tuntutan-tuntutan seperti ini memerlukan waktu, sumber dan enerji yang luar awam besar. Seks dengan pria yang salah bisa mengakibatkan hasil-hasil yang betul-betul tidak menyenangkan.”

 

Ogas dan Gaddam menyebut kebutuhan wanita untuk mencari pasangan yang berpotensi jasmani dan karakter sebelum bisa merasa bergairah. Mereka mengucapkan bahwa mekanisme keamanan dalam diri wanita ini tidak bersedia memberi persetujuan untuk seks hingga berbagai persyaratan terpenuhi. (Catatan: Wanita yang pernah mengalami stress berat seksual cenderung tidak memiliki mekanisme pembelaan diri seperti ini, sebab itu lebih mudah terlibat dalam perselingkuhan dan makin mudah menjadi korban di masa dewasa)

 

Pria tidak seperti itu memerlukan perlindungan dari seks yang sembarangan, sebab itu mereka tidak memaksimalkan penelusuran dalam diri mereka. Mereka kadang-kadang selingkuh hanya untuk seks, malah padahal malah mereka betul-betul senang dalam keluarganya. Inilah sebabnya hubungan yang dirusak oleh perselingkuhan seorang pria lebih mudah dibenarkan setelah perselingkuhan itu terkuak, dibanding dengan sekiranya wanita selingkuh. Pria bisa dan memang selingkuh walau rumah tangganya senang dan rumah tangga seperti ini pantas diselamatkan. Sementara itu, wanita cenderung selingkuh sekiranya rumah tangganya tidak senang, dan hubungan pasutri yang memang sudah retak itu tidak pantas dibina untuk menjadi hubungan yang penuh kepercayaan dan intim secara emosionil.