Prosedur Transfer Embrio Beku

Transfer Embrio

Transfer embrio beku ialah salah satu cara kerja dari rangkaian prosedur bayi tabung yang dijalankan dengan metode mencairkan kembali embrio yang telah dibekukan sebelumnya. Prosedur ini dapat menjadi pilihan pilihan untuk dijalani, apabila ada kondisi tertentu yang menyebabkan pemindahan embrio wajib ditunda secara khusus dulu.

 

Pada cara kerja bayi tabung, kebanyakan dokter akan merekomendasikan calon ibu hamil untuk langsung menjalani penanaman embrio di dalam rahim. Tapi pada beberapa kasus, penanaman embrio tersebut dapat dipertimbangkan untuk ditunda. Penundaan dijalankan dengan metode membekukan embrio mengaplikasikan alat khusus, kemudian disimpan, dan dicairkan kembali pada dikala yang tepat. Pencairan embrio yang telah dibekukan akan meniru siklus masa subur calon ibu hamil supaya tingkat kesuksesan bayi tabung juga tinggi.

 

Pelaksanaan pembekuan diawali setelah sel telur yang telah dibuahi berkembang menjadi embrio, setelah diinkubasi di laboratorium khusus. Embrio kemudian dimasukkan ke dalam cairan khusus atau CPA (cryoprotective agent) sebelum dibekukan. Cairan ini akan melindungi sel dari kerusakan, dikala cara kerja pembekuan dan penyimpanan dijalankan.

 

Sel yang telah dicampur dengan cairan CPA kemudian akan didinginkan, baik secara perlahan ataupun cepat (vitrification). Pendinginan embrio yang dijalankan secara perlahan dapat memakan waktu 1-2 jam. Biasanya metode pendinginan embrio secara cepat memerlukan CPA yang lebih kuat. Setelah cara kerja pendinginan selesai, embrio yang telah beku akan disimpan pada temperatur -196 oC di dalam nitrogen cair. Pelaksanaan pembekuan embrio akan dijalankan 1-6 hari setelah pembuahan. Embrio yang telah disimpan di temperatur betul-betul rendah dapat bertahan betul-betul lama, malahan hingga bertahun-tahun setelah cara kerja pembuahan dijalankan.

 

Kalau calon ibu telah siap untuk menjalani transfer embrio yang telah dibekukan, karenanya cara kerja penanaman embrio dapat dijalankan. Embrio yang telah dibekukan akan dicairkan secara khusus dulu, dengan direndam di dalam cairan khusus. Cairan ini juga berfungsi untuk menghilangkan CPA yang melindungi embrio pada masa penyimpanan, dan mengembalikan kadar air di dalam sel embrio.

 

Seperti penjelasan sebelumnya, penanaman embrio yang telah cair akan disesuaikan dengan masa subur calon ibu. Dokter dapat memberikan hormon atau menunggu masa subur terjadi secara alami.

 

Calon ibu yang dikasih hormon sebelum penanaman embrio, akan dipantau kadar hormonnya melewati pengambilan sampel darah semenjak menstruasi terjadi. Setelah menstruasi selesai, dokter akan mulai memberikan hormon. Kalau kondisi rahim telah siap untuk menerima embrio, penanaman akan dijalankan.

 

Pada penanaman embrio yang disesuaikan dengan masa subur calon ibu, pemantauan kondisi hormon alami tubuh dan rahim akan dijalankan secara lebih intensif, dibanding pada pasien yang dikasih terapi hormon. Pemantauan hormon dijalankan melewati sampel darah, padahal pemantauan kondisi rahim dijalankan melewati USG. Kalau masa subur telah dipastikan, calon ibu akan menerima tambahan hormon progesteron untuk mempersiapkan dinding rahim sebelum ditanam embrio.

 

Pelaksanaan penanaman embrio dijalankan dengan kondisi calon ibu hamil dalam kondisi sadar, tetapi dikasih sedatif untuk menolong menenangkan selama prosedur berlangsung. Dokter akan memasukkan kateter ke dalam mulut rahim hingga menempuh rahim. Melalui kateter ini, satu atau lebih embrio yang telah dicairkan akan dimasukkan ke dalam rahim mengaplikasikan alat khusus. Pelaksanaan penanaman embrio umumnya tak memunculkan rasa sakit, tetapi calon ibu dapat menikmati ketidaknyamanan dan kram perut ringan selama prosedur berlangsung.