Chevrolet Trax LTZ 1.4 Turbo AT

Trax LTZ

Telah ada sesi test drive, sayang dong seandainya tak dijajal, apalagi ini di Sentul. Sebelum menjalai sesi test drive, para jurnalis diingatkan untuk tak mematikan stability control selama test drive untuk alasan keselamatan. Sisanya standar untuk keselamatan mengemudi, seumpama seluruh orang yang ada di dalam kendaraan beroda empat wajib gunakan sabuk pengaman dan lain-lain. Tes menyepakati seluruh aturan itu, kami melompat ke kabin Trax untuk segera menjajalnya.

 

Mengapa pertama merupakan akselerasi, untuk mengenal seberapa kencang Trax membangun kecepatan tiap-tiap detik. Ada hal yang kami rasa perlu anda tahu, karena di tes akselerasi ini juga kami bisa memandang traction control Trax bekerja dengan bagus. Sebab? Telah dikala aba-aba mulai berakselerasi dan kami mulai gas pol, ban sama sekali tak berdecit. Andai traction control dinonaktifkan atau gunakan kendaraan beroda empat lain yang tak ada traction control-nya, pasti ada suara decitan ban. Sementara traction control-nya mahir, mode manual di transmisinya malah aneh. Gejalanya sama dengan Chevrolet Spin, merupakan dikala disuruh ganti gigi terasa ada lag yang besar antara dikala kita memencet tombol “+” dan gigi transmisi berpindah, malah dikala disuruh turun gigi dia baru responsif dan nyaris tanpa sela. Rekomendasi ini telah transmisi generasi baru lho. Ketika kami sih, mode manualnya tak usah digunakan, di mode otomatis saja dia konsisten jempolan dan responsif kok.

 

Mesin turbo Trax 140 PS dan 200 Nm-nya dirancang dengan mahir, karena bisa menghantarkan tenaga dan torsi dengan halus, nyaris menyamai mesin naturally aspirated. Tak dibejek habis, tak ada karakter agak meledak-ledak seperti mesin turbo milik Ford Fiesta, malah anda mungkin lupa seandainya ini merupakan kendaraan beroda empat turbo karena responsnya alami. Top speed waktu tes akselerasi itu sekitar 130-an km/jam seandainya saya tak salah ingat.

 

Telah torsi maksimumnya telah ada sejak 1.850 rpm, Trax seandainya berharap menyusul kendaraan beroda empat lain tinggal injak gas sedikit saja, maka torsi 200 Nm siap melakukan tugas itu. Dengan hitungan yang mengandalkan perasaan dari lubuk hati yang terdalam, 0-100 kendaraan beroda empat ini kurang lebih tuntas dalam 10 detik. Maklum, waktu saya bersama 3 jurnalis lain, tak ada yang sempat menyalakan stopwatch karena sedang konsentrasi seluruh (atau malah istighfar karena takut kenapa-kenapa?)

 

Walaupun sedikit berterima kasih karena power steering elektrik milik Trax punya speed sensing, karena setirnya ringan di kecepatan rendah tetapi menjadi berat di kecepatan tinggi. Berkeinginan semacam itu, radius putar yang ada di angka 5,6 meter untuk Trax LTZ bukanlah angka yang cukup membanggakan. Soal kekedapan, saya bersuka cita berada di dalam kendaraan beroda empat ini, karena peredaman kabinnya superior sehingga suara-suara ban, angin dan suara luar lainnya tak merangsek ke kabin.

 

Tak tes handling di tikungan S kecil, itulah saatnya untuk memandang bagaimana handling Trax. Tak memacu Trax melewati trek pengujian handling yang disiapkan, saya merasa suspensi kendaraan beroda empat ini ada kemiripan dengan Spin, merupakan kombinasinya pas antara kenyamanan dan handling. Enggan sekeras Juke atau Ecosport, tetapi tak bikin kendaraan beroda empat seperti berharap jumpalitan atau terguling dikala berbelok di kecepatan agak tinggi. Sekiranya ingat, ini bukan kendaraan beroda empat sport, jadi jangan coba-coba melakukan Scandinavian Flick dengannya ya.

 

Sayang, pihak Chevrolet Trax tak menyiapkan ramp tanjakan dan turunan agar kami bisa mencari tahu performa hill start assist dan hill descent control-nya. Kami juga tak bisa membejek performa Trax optimal di sirkuit Sentul besar sesuka hati, karena kami wajib mematuhi kecepatan lead car, menjaga jarak dengan kendaraan beroda empat lain di depan dan tak boleh menyalip. Sebagai gantinya, Chevrolet membikin pola sirkuit kecil di area parkiran Sentul di mana kami boleh ngebut dan bermanuver dengan Trax.

 

Pas mengingat rombakan manajemen GM secara global kemarin yang berimbas juga kepada penutupan pabrik Chevrolet dan penggantian presdir GM Indonesia, Trax ini seolah menjadi penebus dosa. Sejauh yang kami lihat, Trax punya karunia berupa mesin yang responsif dan kencang dan disalurkan melewati transmisi otomatis yang sigap dan cekatan. Mutu kami rasa, ini merupakan small SUV/crossover non-premium dengan mesin terbaik untuk dikala ini.

 

launching chevrolet trax indonesia

Hal lainnya, nilai jual Trax di fitur keselamatan sangat-sangat kuat dibandingkan dengan saingannya. Dengan 6 airbags, stability control, traction control, hill start assist, hill descent control serta ABS plus EBD, dia juga tergolong paling lengkap. Ini boleh jadi bakal jadi pertimbangan calon konsumen yang mementingkan unsur keselamatan seandainya terjadi apa-apa nantinya. Rival yang harganya sepantaran belum tentu punya fitur keselamatan selengkap itu. Kombinasi pas antara kenyamanan dan handling dari suspensinya juga bagus, tak keras tetapi tak kelewat empuk.

 

Oh ya, fitur Trax juga jempolan, salah satunya head unit touch screen dengan Chevrolet MyLink, colokan listrik di belakang, sunroof serta konektivitas melimpah, khususnya dengan produk Apple. Tampak buatan dan materialnya juga impresif. Dengan 15 kompartemen penyimpanan di sekujur kabin, dia juga praktis untuk konsumen yang menyukai membawa banyak barang atau mewujudkan kendaraan beroda empat sebagai rumah kedua.

 

Terus, apa kekurangan Trax? Yang pertama sih hakekatnya soal desain, karena kami tak semacam itu yakin seandainya Trax ini punya desain yang bikin mata betah melihatnya lama-lama atau punya kegantengan yang sama dengan Honda HR-V atau Mazda CX-3 yang tampil sebagai crossover ganteng dan rupawati. Sekiranya untuk yang ini kami serahkan lagi ke selera anda masing-masing saja.  menyukai ya bagus, seandainya tak ya tak apa-apa.

 

Kekurangan lainnya merupakan mode manual yang pengoperasiannya aneh dan perpindahan naik giginya masih ada lag, meskipun ini telah merupakan transmisi generasi baru. Sisanya bisa dibilang minor, merupakan dengan absennya fitur navigasi, auto climate control, start-stop button dan beberapa hal lain.  termasuk hilangnya power window di Trax LT yang rasanya agak janggal tetapi spion berpemanas malah hadir.

 

Apa tak lebih bagus pemanas spionnya disunat dan hadirkan power window di Trax LT? Hal lainnya merupakan radius putarnya yang agak besar, khususnya untuk Trax LTZ yang menempuh 5,6 meter.  berarti nyaris menyamai Mitsubishi Delica dan Nissan Serena yang radius putarnya 5,7 meter, meskipun kendaraan beroda empat ini dimensinya jauh lebih ringkas.